Kamis, 27 Oktober 2011

Pelestarian Hutan Hujan Tropis di Distrik Senopi

Artikel ini adalah terjemahan dari artikel saya dalam bahasa Inggris berjudul: Tropical Rainforest Preservation. Sudah agak lama saya mencoba membantu masyarakat adat Papua melestarikan hutan hujan mereka melalui promosi skema eko-wisata bagi Pegunungan Tambrauw, Pegunungan Arfak dan Gunung Meja. Tujuan dari promosi tersebut adalah untuk menarik wisatawan ke Manokwari sehingga mereka bisa menikmati keindahan alam dari hutan yang keanekaragaman hayatinya (biodiversity) tinggi sekali, serta pada saat yang sama memberikan dukungan finansial bagi para penyedia jasa yang kebanyakan dijalankan oleh masyarakat asli Papua. Ancaman baru bagi hutan hujan tropis Papua terjadi setiap hari, mulai dari penebangan yang melanggar hukum (illegal logging) sampai pada pembersihan hutan buat perkebunan kelapa sawit. Ketika program wisata yang bertanggung jawab ini bisa menyediakan pekerjaan dan mendatangkan penghasilan bagi orang-orang Papua, mereka tidak akan tertarik menyerahkan hutan mereka kepada perusahaan penebangan kayu dan korporasi perkebunan sawit yang sekarang mengancam setiap inch per segi dari hutan Papua. Kalau tidak ada hutan maka tidak ada turis, dan tidak ada turis berarti tidak ada uang.

sulphur-crested cockatoo in the tropical rainforest of New Guinea
Burung Kakaktua Putih Berjambul Kuning di Hujan Hujan Tropis Distrik Senopi Papua Barat

Di samping menonton burung-burung surga, wisatawan dapat pula menyaksikan bermacam-macam binatang tropis seperti kuskus, kanguru pohon, babi hutan dan burung-burung indah lainnya seperti taun-taun, dan kakaktua putih berjambul kuning.
Kampung Senopi di Pegunungan Tambrauw
Senopi adalah sebuah distrik sekitar 200 kilometer jauhnya dari kota Manokwari. Kebanyakan wilayah itu masih ditutupi oleh hutan hujan tropis. Kebar sebagai distrik yang bertetangga dengannya memiliki savanah yang terluas di wilayah kepala burung Papua Barat. Beberapa turis telah mengunjungi Senopi. Mereka pergi ke sana untuk melihat burung-burung surga berdansa di cabang dan ranting-ranting pohon yang terletak sekitar 2 jam perjalanan dari kampung Senopi. Pagi-pagi sekali dan di sore hari sebelum matahari terbenam, burung surga jantan berkumpul di sebuah pohon untuk mementaskan tarian percintaan untuk memikat burung-burung Cendrawasih betina yang adalah penonton mereka sendiri. Ini adalah adegan yang indah sekali di mata para pencinta alam.
Waktu terbaik untuk melihat burung-burung adalah di pagi hari. Mereka biasanya bisa ditemukan di pepohonan yang sedang berbunga atau berbuah. Tidak sulit mencapai Senopi. Ketika telah tiba di Manokwari, Anda bisa pergi ke YAT Losmen atau menghubungi saya via email: peace4wp@gmail.com untuk mengatur perjalanan Anda ke kampung itu.

Guest House for Tourists in Senopi village of Manokwari regency West Papua
Rumah Penginapan Bagi Turis di Distrik Senopi Kabupaten Manokwari Papua Barat

Daya tarik pariwisata lainnya di Senopi adalah populasi rusa (Cervus Timorensis) yang Anda akan sering lihat ketika sedang menjelajahi hutan di distrik itu. Lebih banyak spesies burung bisa dilihat di Bukit Aiwatar yang terletak sekitar 4 jam berjalan kaki dari Senopi. Lebih baik bagi Anda untuk bermalam di tepi Sungai Kamundan dan pagi-pagi sekali mendaki bukit itu untuk melihat burung-burung meminum air asin yang keluar dari dalam tanah hingga mereka mabuk.

Tropical Rainforest around the Kamundan river of New Guinea island
Hutan hujan tropis di sekitar Sungai Kamundan daerah kepala burung Papua Barat

Saya telah banyak sekali melakukan perjalanan dalam beberapa bulan terakhir ini untuk mengambil foto burung, kupu-kupu, terumbu karang, dan ikan hias serta apa saja yang menunjukkan keanekaragaman hayati yang tinggi dari tropical rainforest dan terumbu karang (coral reef) Papua Barat. Namun perjalanan bird watching saya ke Bukit Aiwatar adalah salah satu pengalaman yang paling berkesan. Sayang sekali, pusat pengamatan burung ini tidak dikenal di kalangan komunitas birder di seluruh dunia.
Harapan saya, meningkatnya jumlah wisatawan yang pergi ke Senopi akan membantu penduduk asli Papua meningkatkan taraf hidup mereka dan pada saat yang sama melindungi hutan dan lingkungan hidup di sekitar mereka demi generasi-generasi Papua yang akan datang. oleh Charles Roring

Deers running away after a surprised encounter with us at a tributary of Kamundan river
Rusa-rusa berlari menjauhi kami setelah bertemu kami secara mendadak di sebuah anak sungai dari Sungai Kamundan di belantara hutan tropis Papua Barat

Read more...

Menteri Kehutanan Setujui Hutan Produksi Dikonversi untuk Lahan Tebu

Kepala Dinas Pertanian Perkebunan Kehutanan dan Peternakan Banyuwangi, Ade Hidayat, mengatakan, Kementrian Kehutanan memperbolehkan hutan produksi di Banyuwangi dikonversi menjadi tanaman tebu.Menurut Ade, kebijakan pemerintah itu tertuang dalam surat jawaban Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan kepada Pemerintah Banyuwangi baru-baru ini. Sebelumnya, kata Ade, Pemerintah Banyuwangi berkirim surat ke Kementrian Kehutanan terkait pemakaian kawasan hutan untuk tanaman tebu.

Konversi hutan produksi itu, kata dia, bisa dilakukan di tiga Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) yakni KPH Banyuwangi Utara, KPH Banyuwangi Barat dan KPH Banyuwangi Selatan.

Selama ini, kata dia, investor yang akan mendirikan pabrik tebu di Banyuwangi terkendala tidak adanya lahan yang dipakai untuk tanaman tebu. "Hanya kawasan hutan yang memungkinkan untuk tanaman tebu," kata Ade kepada Tempo, Selasa (14/12).

Investor yang berencana mendirikan pabrik gula di Banyuwangi salah satunya yakni konsorsium yang melibatkan PT Perkebunan Nusantara X1, PTPN XII, Mitra Tani Sejahtera dan Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI). Menurut Ade, mereka membutuhkan lahan tebu paling sedikit 3 ribu hektare hingga 10 ribu hektare.


Ade Hidayat menambahkan, Pemerintah Banyuwangi sudah berkordinasi dengan tiga KPH Banyuwangi terkait surat dari Kementrian Kehutanan. "Mereka masih berkonsultasi dengan Kepala Unit Jawa Timur," katanya.

Humas KPH Banyuwangi Selatan, Sutiawan, mengatakan, lahan hutan produksi di Banyuwangi tidak mungkin dikonversi untuk tanaman tebu karena luas lahan hutan di Banyuwangi saat ini kurang dari 30 persen.

Apalagi, kata dia, saat ini sudah tidak ada lahan hutan kosong karena seluruhnya telah direboisasi. "Jadi tidak mungkin konversi menggunakan lahan hutan," katanya.
Luas lahan hutan produksi di seluruh KPH Banyuwangi saat ini mencapai 79.851,3 hektare.

November lalu, Sekertaris Perusahaan PTPN XI Adig Suwandi membenarkan bahwa PTPN XI pernah berniat mendirikan pabrik gula di Kabupaten Banyuwangi. Tetapi niat ini belum terlaksana karena tidak adanya lahan yang cukup luas untuk budi daya tebu.  Menurut dia, untuk pembangunan pabrik gula dengan kapasitas 5.000 tth (ton tebu per hari) diperlukan lahan sekurang-kurangnya 10.000 hekatare.

Read more...

Pemerintah Janji Pertahankan Kelestarian Hutan Papua

Kementerian Kehutana berjanji akan mempertahankan kawasan hutan di Papua agar tak tereksploitasi dengan pengusahaan hutan oleh sejumlah pihak. Langkah ini diambil sebagai salah satu bentuk melestarikan hutan alam Indonesia yang mulai terkikis.Untuk itu, meski banyak usulan untuk membuka kawasan hutan Papua untuk
kegiatan nonkehutanan, Kementerian Kehutanan tetap akan membiarkan kawasan hutan primer seluas 7,3 juta hektar di Papua.
"Memang ada permintaan untuk pembukaan kawasan hutan di Papua, tapi tidak untuk HPH (Hak Pengusahaan Hutan). HPH tak akan bertambah, Kementrian Kehutanan tak akan lagi memberikan penambahan luasan HPH di mana pun, termasuk di Papua,” kata Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan, usai diskusi Pengembangan Industri Kehutanan, di Wisma Antara, Selasa (26/4).
Meskipun begitu, pihaknya tetap memberikan izin pengelolaan hutan untuk pengembangan Merauke Intergrated Food and Energy Estate (MIFEE) di Papua. Saat ini, kata dia, kementerian baru menyetujui penggunaan areal tahap pertama seluas 600 ribu hektare dari rencana pengembangan seluas 1,3 juta hektare yang diajukan.

"Luasan itu juga bukan di hutan primer atau gambut karena sekarang kami stop dulu di dua wilayah itu," ujarnya.

Usulan untuk MIFEE atau permohonan hutan tanaman industri (HTI) di Papua ini, menurut Zulkifli, tetap diprioritaskan mengingat pemerintah fokus meningkatkan ketahanan pangan sesuai koridor ekonomi pembangunan yang diarahkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). "MIFEE bertujuan agar Merauke nantinya bisa menjadi lumbung pangan nasional entah untuk lumbung gula, kedelai, dan sebagainya," ungkapnya.

Dia juga mengakui ada 19 proposal pengelolaan hutan tanaman dan budidaya nonkehutanan di Papua. Sayangnya, kata dia, banyak yang mundur ketika dijelaskan pengelolaan itu tak bisa di hutan primer yang masih banyak kayunya.

"Ada 11 perusahaan yang mundur, tak jadi masuk, karena mereka kita jelaskan tak lagi dapat areal yang lebat, tapi areal bekas tebangan atau logged over area (LOA) yang memang kita siapkan untuk budidaya. Tapi, mudah-mudahan sisanya tak mundur, ada setidaknya 40 ribu hektare untuk dukung swasembada gula," jelasnya.

Zulkifli membantah hutan Papua sudah dikaveling-kaveling untuk kebutuhan dunia usaha. Menurut dia, pertumbuhan ekonomi harus jalan terus tanpa mengabaikan kepentingan ekologis. Penurunan kualitas lingkungan, menurutnya, seharusnya tak terjadi jika memang fokus pada pertumbuhan ekonomi.
"Kalau kebutuhan Papua tak diakomodir, tak ada pertumbuhan ekonomi, maka akan ketinggalan terus. Apalagi Merauke akan dijadikan lumbung pangan nasional," kata mantan politisi dari Partai Amanat Nasional itu.

Read more...

KONSEPSI STRATEGIS PELESTARIAN SUMBERDAYA HUTAN DAN PERKEBUNAN PROVINSI JAWA BARAT

Pembangunan secara umum diartikan sebagai rangkaian upaya yang dilakukan secara terencana, untuk mengantar manusia, bangsa dan negara ke tingkat kesejahteraan yang lebih baik. Di dalam pelaksanaannya, setiap pembangunan selalu menggunakan berbagai sumberdaya antara lain tanah, ruang dan air, maupun sumberdaya alam hayati, yang secara keseluruhan memiliki peranan fungsi dan penunjang kelangsungan pembangunan secara berkelanjutan. Oleh karenanya fungsi-fungsi sumberdaya alam, perlu dilestarikan sesuai dengan amanat Undang-undang Dasar (UUD) 1945. Amanat tersebut sudah sangat jelas bahwa pemanfaatan sumberdaya alam dikuasai oleh negara dan sebesar-besar untuk kemakmuran rakyat.
Dinas Kehutanan dan Perkebunan Provinsi Jawa Barat yang memiliki kewenangan atas sumberdaya alam hutan, ikut bertanggung jawab atas terlaksananya kemakmuran rakyat seperti dimaksudkan di atas, untuk berperan dan memprakarsai pelestarian sumberdaya hutan dari kekritisan dan pemulihan peranan fungsinya agar memenuhi tuntutan amanat Pasal (33) UUD 1945. Kepedulian tersebut, pada hakekatnya ingin membangun kemitraan dengan masyarakat dengan tujuan untuk: (a) merealisasikan tetapan kawasan lindung sebesar 45%, (b) memulihkan peranan fungsi bantaran sungai yang lebih dari 80% telah terganggu, dan (c) memacu kepedulian masyarakat agar peningkatan kesejahteraan secara merata dan berkeadilan dapat diwujudkan.
Memprakarsai luas kawasan lindung yang menunjukkan lebih luas dibandingkan dengan tetapan menurut Undang-undang, kini menjadi strategis kedudukannya untuk disikapi dan didukung secara seksama. Hal tersebut menjadi urgen, karena dimaksudkan untuk membangun gudang penyimpan panen air di seluruh Provinsi Jawa Barat, yaitu sebesar lebih dari 70 milyar m3 yang terbuang ke laut, sehingga dapat disimpan sebagai cadangan air tanah.
Hal yang sama juga terhadap pemulihan bantaran sungai, dimaksudkan untuk memulihkan vegetasi riparian sepanjang 2.300 km (± 5 juta ha) telah mengalami degradasi secara fisik, sehingga peranan fungsinya dapat dipulihkan. Hal lain yang cukup urgen adalah memacu kepedulian masyarakat untuk mendaya-gunakan sumberdaya lahan secara optimal, agar terwujudnya peningkatan kesejahteraan secara merata dan berkeadilan.
Untuk memenuhi tetapan kawasan lindung dengan menetapkan lahan dan kawasan-kawasan hutan yang memiliki kemiringan lereng lebih dari 30% untuk dijadikan kawasan lindung. Namun demikian perubahan fungsi dan manfaat perlu dialihkan dari pemanfaatan jasa produksi riil (kayu, palawija dll) menjadi jasa wisata alam (pusat-pusat wisata alam). Membangun pusat-pusat rekreasi alam menjadi tatanan utama untuk tujuan pelestarian alam dan peningkatan pendapatan asli daerah (PAD) dari sektor hijau. Tahap awal pembangunannya dengan menitik beratkan terhadap DAS Citarum, selain kondisi fisiknya yang memerlukan penanganan lebih intensif, juga memiliki ancaman terhadap degradasi fisik berdasarkan tingkat bahaya erosi, tercatat menempati urutan tertinggi, karena peranan fungsinya telah terganggu. Di sisi lain, terganggu dan terdegradasinya DAS hulu Citarum, berpengaruh terhadap Kota Bandung, bendung Saguling, Cirata dan Jatiluhur.
Maksud dan Tujuan:
Dinas Kehutanan dan Perkebunan Provinsi Jawa Barat bersama dengan masyarakat, ingin mewujudkan akad kesepakatan dalam Gerakan Pemulihan Lahan Kritis melalui Alih Fungsi Manfaat Jasa Hutan. Selain (a) mengkukuhkan besaran kawasan lindung 45%, juga (b) meningkatkan PAD sektor hijau melalui jasa wisata hutan alam, serta (c) menggerakan kembali RAGANTANG (Gerakan Gandrung Tetangkalan), melalui program ”Bambunisasi, Sengonisasi, Turinisasi” di seluruh DAS kritis di Jawa Barat yang telah mengalami tingkat kekritisan berarti.
Uraian Penutup
Tampaknya sangat sederhana tidak terlalu rumit untuk memenuhi harapan penetapan kawasan lindung 45% yang menunjukkan lebih besar dari tetapan UU Tata Ruang No. 26 Tahun 2007. Namun demikian tidaklah sederhana dalam implementasinya apabila tidak diikuti oleh penyadaran masyarakat dan dunia usaha sektor hijau. Pemahaman paling penting bagi semua pihak bahwa jasa hutan alam juga memiliki peranan dan manfaat serta mampu meningkatkan kesejahteraan rakyat maupun sebagai sumber PAD.

Read more...

5 Hutan Wisata di Jawa Barat

[UNIKNYA.COM]: Saat Lebaran tiba, tak bisa dipungkiri sebagian dari kita melakukan mudik ke kampung halaman tercinta. Selain bermaaf-maafan dengan handai toulan, momentum mudik ini biasanya digunakan pula untuk berlibur dan tamasya ke berbagai daerah unggulan di Kota asal kita berada. Berikut 5 Hutan wisata di Jawa Barat yang bisa Anda kunjungi pada saat mudik nanti:

1. Hutan Sancang  (Leuweung Sancang)
Hutan ini dikelola oleh Departemen Kehutanan dan memiliki luas kawasan 2.157 ha dengan luas wilayah laut sekitar 150 ha. Wilayah Sancang berada di ketinggian 0-3 m dpl, kawasan ini mempunyai konfigurasi umum lahan yang datar-hanya terdapat tebing-tebing curam di sebagian pesisir pantai khususnya di daerah sebelah timur yaitu wilayah Karang Gajah (salah satu daerah di hutan Sancang yang berada di pesisir pantai).

Hutan Sancang (Leuweung Sancang) (sumber: disparbud.jabarprov.go.id,uniknya.com)

Kualitas lingkungan dan kebersihannya pun masih terjaga, walaupun dibagian timur (pesisir wilayah Hutan Sancang) terdapat pondok nelayan yang menetap dan memanfaatkan lahan di area konservasi ini.  Apabila dilihat dari segi visabilitis, hutan Sancang memiliki tingkat pandang yang bebas dengan panorama alam yang indah, namun apabila berada di dalam hutannya, maka akan sulit untuk melihat kearah pantai karena susunan tumbuhan / pepohonan di Hutan Sancang sangat rapat.
Sedangkan daya tarik yang terdapat di Hutan Sancang adalah Hutan asri dengan ekosistem yang unik dan pemandangan alam indah, serta terdapat hutan bakau, sungai, berbagai jenis flora dan fauna, dan terdapat gugusan-gugusan batu yang menimbulkan panorama alam yang unik. Flora dominan yang terdapat di Hutan Sancang antara lain ; pohon ketapang, pohon bakau, tumbuhan Sorea, serta jenis tumbuhan lain yang beragam jenis termasuk pohon Meranti merah dan pohon Kaboa yang langka. Untuk aktivitas yang dapat dikembangkan di Hutan ini adalah ; trekking, fotografi, menelusuri hutan, penelitian ekosistem alam, memancing, berkemah dan aktivitas lain yang apabila dikembangkan tidak merusak dan mengganggu ekosistem Hutan Sancang tersebut.

2. Taman Nasional Gunung Halimun
Gunung Halimun adalah salah satu kawasan perlindungan dan pelestarian alam hutan hujan tropis terluas di Jawa Barat yang pada tahun 1992 ditetapkan oleh pemerintah Indonesia sebagai taman nasional. Nama Halimun diambil dari keadaan cuaca di kawasan ini, karena di pagi dan di sore hari ketenangan hutan dan pegunungan sering sekali di selimuti kabut tipis atau halimun (Dalam bahasa Sunda) maka atas dasar itulah kawasan ini dinamai gunung Halimun oleh penduduk sekitar.

Taman Nasional Gunung Halimun (Sumber: seputarnusantara.com,uniknya.com)

Taman Nasional Gunung Halimun mempunyai keanekaragaman jenis hayati yang sangat tinggi, tersusun dari tumbuhan bawah, memanjat, tumbuhan tinggi, dan bahkan  disini ditemukan 75 jenis anggrek yang beberapa diantaranya merupakan jenis langka. Hal menarik yang dimiliki kawasan ini adalah sebuah jembatan kanopi (Canopy walk) yang disediakan bagi pengunjung untuk melihat dan menikmati kesejukan alam di ketinggian 20 – 25 meter diatas tanah, dengan panjang 100m canopy walk dapat membantu para pengunjung untuk melihat aktifitas binatang tanpa membuat takut dan mengganggu binatang tersebut.
Potensi biologis ataupun ekologis Taman Nasional Gunung Halimun dapat dipandang sebagai sesuatu yang berharga dan menentukan bagi wilayah disekelilingnya. Taman ini dapat dianggap sebagai tempat stok air yang cukup besar untuk kawasan Utara dan Selatan Jawa Barat.
Untuk mencapai tempat tujuan para pengunjung harus menempuh perjalanan kira–kira satu setengah jam berkendara mobil dari Jakarta menuju Lido dari Lido menuju kawasan taman nasional menggunakan kendaraan operasional PPKAB.

3. Taman Hutan Juanda
Sejarah Taman Hutan Raya yang dulu dikenal dengan nama Dago Pakar ini dimulai pada tahun 1922, ketika batas-batas hutan ini ditetapkan. Pada tahun 1963, hutan lindung ini mulai dipersiapkan sebagai hutan wisata atau kebun raya. Oleh karena itu, kawasan seluas 30 ha di mulai ditanami pepohonan yang berasal dari berbagai daerah, baik di dalam maupun luar Indonesia.

Taman Hutan Juanda (Sumber: wordpress.com,uniknya.com)

Atas Gagasan Gubernur Propinsi Jawa Barat pada 23 Agustus 1965, hutan ini diresmikan sebagai Kebun Raya / Hutan Rekreasi Ir. H. Djuanda. Pada tahun 1980 pengelolaannya dialihkan dari Perum Perhutani ke Direktorat Jendral Perlindungan dan Pengawetan Alam (sekarang Direktorat Jendral Perlindungan dan Pelestarian Alam / PHPA).
Anda dapat melihat berbagai jenis tumbuhan yang tumbuh di hutan ini. Terdapat lebih kurang 2.500 pohon yang termasuk dalam 40 familia dari 108 spesies, antara lain Cemara Sumatra, Kayu Jati, Bayur Sulawesi, Jati Jawa, Mahoni Uganda, Mahoni Daun Besar, Pohon Sosis, Pinus atau Tusam, Tusan Mexico, dan Kaliandra. Sedangkan faunanya terdiri dari berbagai jenis burung dan mamalia, di antaranya Ketilang atau Cangkurileung, Jalak, Tekukur, Elang, Perkutut, Puyuh Batu, Musang, dan Bajing atau Tupai.

4. Hutan Cagar Alam Pananjung
Nikmati keindahan alami Cagar Alam Pananjung yang tidak ada duanya! Dalam taman seluas  ± 530 hektar ini Anda akan menemukan berbagai jenis flora dan fauna langka seperti bunga Raflesia Padma, rusa, dan berbagai jenis kera yang pada umumnya sudah bisa membaur dengan pengunjung. Selain itu, jelajahi juga goa-goa alam dan buatan seperti Goa Panggung, Goa Parat, Goa Sumur Mudal, Goa Lanang, Goa Jepang, serta sumber air Rengganis dan Pantai Pasir Putih dengan keindahan Taman Lautnya.

Hutan Cagar Alam Pananjung (sumber: blogspot.com,uniknya.com)

5. Kawasan Wisata Prabu Siliwangi
Kebesaran nama Prabu Siliwangi diabadikan pada hutan cagar budaya sekaligus objek wisata alam ini. Anda akan mendapatkan sekaligus menikmati pepohonan besar dan rindang setempat, sekaligus mata air yang sangat jernih dan dingin, menjadikan kawasan Hutan Prabu Siliwangi identik sebagai objek wisata alam yang sejuk memikat.
Keunikan yang ada di kawasan hutan ini mencakup komunitas monyet yang berjumlah puluhan dan hidup dari pohon ke pohon. Rasakan pengalaman langsung berinteraksi dengan hewan ini karena monyet-monyet ini sangat akrab dengan pengunjung. Selain itu, di hutan ini juga terdapat sebuah kolam berair dangkal dan jernih. Kolam ini dilengkapi dengan sebuah patung ikan yang difungsikan sebagai air mancur.
Biasanya, para pengunjung memanfaatkan waktunya di Hutan Prabu Siliwangi untuk berenang dan sebagian lagi menggunakannya untuk sekedar berekreasi – suatu hal yang bisa juga Anda cobe. (**)

Kawasan Wisata Prabu Siliwangi (sumber: indonesiatravel.biz)

Read more...

Usaha, Cara & Metode Pelestarian Hutan Agar Tidak Gundul dan Rusak

Berikut di bawah ini adalah teknik dan cara yang dapat digunakan untuk menjaga hutan kita tetap terjaga dari tangan-tangan perusak jahat. Perambahan hutan tanpa perencanaan dan etika untuk mencari keuntungan sebesar-besarnya sangatlah berbahaya karena dapat merusak alam dan habitat serta komunitas hewan yang ada di dalamnya.
1. Mencegah cara ladang berpindah / Perladangan Berpindah-pindah
Terkadang para petani tidak mau pusing mengenai kesuburan tanah. Mereka akan mencari lahan pertanian baru ketika tanah yang ditanami sudah tidak subur lagi tanpa adanya tanggung jawab membiarkan ladang terbengkalai dan tandus. Sebaiknya lahan pertanian dibuat menetap dengan menggunakan pupuk untuk menyuburkan tanah yang sudah tidak produktif lagi.
2. Waspada-Waspadalah & Hati-Hati Terhadap Api
Hindari membakar sampah, membuang puntung rokok, membuat api unggun, membakar semak, membuang obor, dan lain sebagainya yang dapat menyebabkan kebakaran hutan. Jika menyalakan api di dekat atau di dalam hutan harus diawasi dan dipantau agar tidak terjadi hal-hal yang lebih buruk. Kebakaran hutan dapat mengganggu kesehatan manusia dan hewan di sekitar lokasi kebakaran dan juga tempat yang jauh sekalipun jika asap terbawa angin kencang.
3. Reboisasi Lahan Gundul dan Metode Tebang Pilih
Kombinasi kedua teknik adalah sesuatu yang wajib dilakukan oleh para pelilik sertifikan HPH atau Hak Pengelolaan Hutan. Para perusahaan penebang pohon harus memilih-milih pohon mana yang sudah cukup umur dan ukuran untuk ditebang. Setelah meneang satu pohon sebaiknya diikuti dengan penanaman kembali beberapa bibit pohon untuk menggantikan pohon yang ditebang tersebut. Lahan yang telah gundul dan rusak karena berbagai hal juga diusahakan dilaksanakan reboisasi untuk mengembalikan pepohonan dan tanaman yang telah hilang.
4. Menempatkan Penjaga Hutan / Polisi Kehutanan / Jagawana
Dengan menempatkan satuan pengaman hutan yang jujur dan menggunakan teknologi dan persenjataan lengkap diharapkan mempu menekan maraknya aksi pengrusakan hutan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Bagi para pelaku kejahatan hutan diberikan sangsi yang tegas dan dihukum seberat-beratnya. Hutan adalah aset / harta suatu bangsa yang sangat berharga yang harus dipertahankan keberadaannya demi anak cucu di masa yang akan datang.

Read more...

HUTAN (DAN) PRIMATA: EKOLOGI DAN PELESTARIAN PRIMATA ENDEMIK DI JAWA DAN KALIMANTAN

Wilayah Sondaik adalah salahsatu kawasan terkaya di dunia untuk keanekaragaman primata di mana 18 jenis terbatas penyebarannya pada kawasan ini. Di Jawa dan Kalimantan, yang termasuk pulau-pulau yang terbesar, terdapat tiga dan lima jenis endemik yang terbatas pada satu pulau saja. Enam jenis di antaranya tergolong suku kera sub-suku Colobinae, sedangkan dua jenis tergolong suku owa. Kelestarian dari kebanyakan kera ini tergantung pada pelestarian hutan. Pulau Jawa adalah wilayah yang padat penduduknya di mana hutan ditebang sejak lama, sedangkan Kalimantan adalah pulau yang berada pada masa peralihan di mana perubahan tataguna tanah secara cepat mulai mengkonversikan permukaan pulau ini. Jawa sudah sangat sedikit hutannya sejak dulu, sedangkan Kalimantan masih ditutupi hutan luas sampai beberapa dasawarsa yang lalu.
Tujuan penelitian ini ialah mengumpulkan data mengenai ekologi dan pelestarian primata endemik di Jawa dan Kalimantan. Untuk ini studi-studi dilaksanakan di mana survai lapangan berlangsung selama perioda 1994-2001.
Bagian pertama studi ini berfokus pada pengujian mengenai tehnik sensus pada penelitian primata yaitu bermaksud untuk menentukan dampak terhadap hasil sensus dari perubahan perilaku jenis-jenis sasaran yang disebabkan oleh gangguan lingkungan di sekitar primata tersebut. Sebagai hasil penelitian ditemukan bahwa penaksiran kepadatan cukup bervariasi di antara berbagai tehnik dan lokasi. Kesimpulannya adalah bahwa kita perlu sangat berhati-hati jika membandingkan data sensus dari berbagai lokasi yang dikumpulkan oleh berbagai peneliti dengan menggunakan berbagai tehnik. Primata mungkin mengubah responsnya terhadap manusia yang mengamatinya sebagai reaksi terhadap gangguan habitatnya. Tidak mustahil ini ada dampaknya dalam program peninjauan dan sebagai hasilnya mengurangi atau melebihi taksiran kepadatan yang sebenarnya.
Bagian kedua studi ini berfokus pada primata di Pulau Jawa. Pertama, ditunjukkan bahwa populasi dari salahsatu kera endemik, yaitu Rekrakan Presbytis comata fredericae, yang terdapat di Jawa sebelah timur tidak dapat dipisahkan secara jelas sebagai jenisnya sendiri dari populasi di sebelah barat.
Kedua, penyebaran dan status kelestariannya dari primata endemik di Jawa ditentukan. Lutung Jawa atau budeng Trachypithecus auratus ditemukan di seluruh Jawa, Bali dan Lombok, akan tetapi tidak ditemukan di Kepulauan Kangean, meskipun pernah ada laporannya. Berdasarkan penyebarannya yang terbatas dan populasi-populasinya yang sangat terpencar, ditambah penangkapan untuk dijual-belikan, jenis kera ini seharusnya dianggap Rentan menurut kriteria ancaman yang disusun IUCN. Surili itu terbatas pada hutan tropis di Jawa Barat dan Tengah dari permukaan laut sampai sekitar 2500m dpl. Populasi yang cukup besar ditemukan di Jawa Tengah, di luar penyebaran yang diduga sebelumnya. Meskipun demikian jenis
Forest (and) Primates
198
ini dianggap Genting menurut kriteria acaman IUCN karena derajat terpecahnya populasi ini. Surili ini membagi habitatnya dengan Owa Jawa Hylobates moloch di sebagian terbesar wilayahnya. Jenis terakhir ini adalah terjarang dari ketiga kera endemik di Jawa karena terbatas pada kantung-kantung terakhir dari hutan tropis dataran
Bagian ketiga dari studi ini berfokus pada primata endemik di Kalimantan. Penyebaran dan status kelestariannya ditentukan untuk salahsatu primata paling karismatik di Asia Tenggara, yaitu Bekantan Nasalis larvatus. Ternyata jenis ini tidak terbatas pada daerah pesisir dan kawasan hilir dari sungai besar, seperti diduga sebelumnya, namun terdapat juga di seluruh pedalaman Kalimantan. Secara umum populasi-populasi di pedalaman kecil dan tersebar berjauhan, sebuah pola yang dapat diuraikan karena pemburuan yang lebih intensif dibanding dengan keadaannya di daerah pesisir. Jenis ini tidak dilindungi secara memadai dan kebanyakan dari populasi-populasinya yang besar sedang menurun jumlahnya Walaupun berada dalam kawasan konservasi.
Selanjutnya kami menentukan pola-pola spasial dari keanekaragaman primata dalam arti kekayaan jenis dan keendemikan untuk Kalimantan, serta mengevaluasikan ini berhubung dengan pola-pola tataguna tanah oleh manusia, dan tataruang jaringan kawasan konservasi. Hutan tropis sepanjang sungai besar di Kalimantan Timur sebelah timur-tengah yang menutupi kawasan berukuran 30,000 km2, adalah kawasan terkaya, baik dari segi jumlah jenis absolut (sampai sebelas jenis yang hidup berdampingan di sini), maupun dari segi jumlah jenis endemik (sampai lima jenis terdapat di sini). Dari kelima kawasan konservasi yang terkaya akan jenis (termasuk yang endemik), tiga di antaranya hampir habis hutannya. Ini terutama disebabkan oleh penggabungan antara penebangan ilegal, penambangan, pelanggaran tapal batas, dan pembakaran. Dua di antara primata yang endemik untuk bagian tigaperempat dari pulau Kalimantan bagian utara, yaitu Kalawat Hylobates muelleri dan Banggat Presbytis hosei adalah Rentan Punah menurut IUCN.
Pelestarian dari primata beserta hutannya, baik di Kalimantan maupun di Jawa, terbukti ada masalahnya terutama karena kekurangan kelembagaan, dana yang kurang, pengetahuan yang tidak memadai, salah-pengertian mengenai isyu-isyu ekologis, perencanaan yang kurang pemaduannya, dan kurangnya komitmen yang sungguh-sungguh serta efektif dan dukungan politik, baik setempat, nasional dan internasional. Pemecahan masalah-masalah tersebut dengan pendekatan secara integral merupakan syarat mutlak, jika kita ingin melestarikan primata endemik di Wilayah Sondaik. Penelitian di masa depan seharusnya berfokus pada pengumpulan data-data ekologi dan perilaku yang begitu dibutuhkan untuk menanggapi isyu-isyu konservasi, dan sebaiknya berlangsung melalui program peninjauan jangka panjang.

Read more...

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP